Hindari Perbuatan Curang
Kesuksesan tidak dapat dilakukan dengan cara yang pintas. Di era yang serba instan ini tidak semua dapat dilakukan dengan cara yang instan, bahkan sesuatu yang didapat dengan cara yang instan dinilai mempengaruhi kualitas produktifitasnya. Seorang siswa yang ingin lulus dengan jalan pintas pada akhirnya mencontek dalam mengerjakan soal-soal ujian. Seorang memanipulasi timbanganya untuk memperbanyak keuntungan, ataupun seorang pejabat yang menyogok dengan sejumlah uang untuk menaikkan jabatan, dan masih banyak lagi tindakan kecurangan-kecurangan yang berkembang di masyarakat. Setiap tindakan kecurangan merupakan ketidak mampuan seseorang terhadap perkara yang dihadapinya, padahal untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan atau harapan-harapan yang besar dalam hidupnya hanya dapat dilakukan dengan keyakinan yang tinggi. Dan Bisakah seorang yang berbuat kecurangan memiliki keyakinan yang tinggi ? dan bagaimanakah balasan Allah terhadap setipa tindakan kecurangan ?
Sesorang yang melakukan kecurangan akan menutupi segala tindakan kecurangannya dengan berbagai alasan dan dalih yang akan menghilangkan sikap kerendahan hati dalam dirinya. "Tawadhu" merupakan sikap ketundukan terhadap suatu kebenaran, dengan demikian orang yang berbuat kecurangan pada hakikatnya ia berdiri diatas kesalahannya, dan tidaklah rasa takut itu, kecuali bagi-bagi orang yang berdiri diatas kesalahan.
Kecurangan merupakan kebohongan yang akut, karena bukan hanya muncul dari perkataan belaka namun dapat berupa tindakan, ilmu, pikiran dsb. Dalam tindakan jual beli misalnya mengurangi timbangan, menyembunyikan kecacatan atau mengurangi timbangannya maka akan dapat mengurangi kepercayaan dalam bertransaksi. Seorang pelajar yang melakukan kecurangan dalam menuntut ilmu, dengan mencontek misalnya akan mempengaruhi optimisme dalam dirinya. Allah swt melarang setiap tindakan yang curang karena tidak ada kebaikan dalam kecurangan kecuali kerusakan akibat perbuatannya.
Lembah Jahanam Bagi Orang yang Berbuat Curang
Kata "wail" dalam surat al Muthoffifin berarti keburukan yang sangat buruk atau sebuah lembah di Jahannam. Wail merupakan kecaman keras dari Allah swt. terhadap perilaku curang dalam dimbangan. Selain al-Muthoffifin, peringatan serupa juga terdapat dalam surat ar Rahman ayat (9). Allah berfirman :
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
Artinya :"Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengrangi neraca itu"
Sekecil dan sesamar apapun kecurangnnya, pada hari perhitugan akan tampak juga. Karenanya, dalam lanjutan 3 ayat pertama surat al-Muthoffifin, Allah mengingatkan tentang hari kiamat. Yaitu hari dimana semua amal ditimbang dan diberi pembalasan. Allah swt. berfirman :
"Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. ada suatu hari yang besar : (yaitu) Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam" (Q.S. Al-Muthoffifin : 4 - 6).
Kecurangan dan harta yang diperoleh secara zalim, jelas akan memperberat timbangan keburukan. Jika seseorang disiksa karenanya bearti dia telah mendapatkan kerugian yang amat besar. Kenikmatan yang diperolehnya dari harata tersebut, sebesar apapu tidak akan sebanding dengan kepedihan dan kesedihannya di neraka. Sehinga pada hakikatnya ia bukan dapat untung tapi justru "buntung".
Adapun di dunia segala apapun yang didapat dari hasil kecurangan, baik harta, jabatan, tahta tidak akan membawa keberkahan justri sebaliknya akan membawakan mudhorot dan mengundang banyak permasalahan, bahkan bisa jadi malapetaka pun dapat menimpa dari hasil tindakan kecurangan.
Hukuman Allah memang tidak selalu tampak dramatis seperti halnya dalam tayangan sinetron, atau film-film di layar kaca. Namun balasan terhadap tindakan yang membuahkan kezaliman pastilah menjadi konsekuensi dari ketentuan dan ketetapan Allah swt. Jika balasan tersebut tidak datang di dunia pastilah di akhirat Allah akan membalasnya termasuk perbuatan kecurangan "wail" dengan konsekuensi berada dalam lembah jahanam, tidak ada seorangpun yang mampu mengelak dari siksaan Allah swt atas tindakan manipulasi atau kecurangan dari tangan seseorang sedangkan Allah swt. Maha melihat atas segala sesuatu.
Kesimpulannya, kecurangan bukanlah keberhasilan atau jalan untuk menuju kesuksesan yang sebenarnya. Tapi sebaliknya jalan untuk menuju keburukan yang hakiki baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya keimanan di hati adalah pertahanan satu-satunya untuk menghindari dari setiap perbuatan yang dimurkai Allah swt. Hati yang dipenuhi dengan zikir kepada Allah swt merupakan hati yang sangat peka terhadap setiap kezoliman, sedangkan kemudahan untuk berbuat kezoliman itu sendiri karena hati yang diselimuti oleh hawa nafsu dunia dan kecurangan merupakan keinginan terhadap kenikmatan yang semu, dan membawa kemudaharatan bagi setiap pelakunya.



0 comments:
Post a Comment