ُ
وَمَا أَخْطَأَالْعَبْدُ لَم َيكُنْ لِيُصِيْبَهُ وَمَا اَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَه
Apapun yang luput dari seseorang hamba (memang) bukan sesuatu yang menjadi baginya dan apapun yang menimpanya bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenainya.
"Takdir itu malam yang jangan kau lalui. Takdir itu gunung yang jangan kau daki." Inilah jawaban Khalifah Ali Bin Abu Tholib, saat seseorang bertanya kepadanya tentang takdir. Jawaban sang khalifah untuk orang yang mananyainya itu bukan berarti tidak boleh membahasnya sama sekali, tetapi lebih menggambarkan betapa bahasan takdir adalah bahasan yang mesti dipahami dengan seksama dan hati-hati. Orang yang melalui malam gulita, menyelami lautan yang dalam, dan mendaki gunung yang terjal haruslah berhati-hati jika tidak ingin celaka. Demikian pula dengan membahas takdir.
Ada bagian tertentu dari bahasan takdir yang mesti dipahami, diyakini, dan dipertahankan keberadaanya di dalam hati. Batas minimalnya yaitu keyakinan bahwa apapun yang luput dari seseorang hamba memang bukan sesuatu yang menjadi bagiannya dan apapun yang menimpanya bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenainya
Percaya kepada Takdir
Bagian minimal ini sebenarnya adalah bunyi penggalan Hadits pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hambal dari Abu Daud ra. yang dinyatakan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albany. Hadits itu berbunyi,
لِكُلِّ شَئ حَقِيْقَةٌ وَمَابَلَغَ عَبْدٌحَقِيْقَةَ الْإِيْمَانْ حَتَّى يَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُ وَمَاأَخْطَأَهُ ُلَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَه
Artinya,
"Segala sesuatu ada hakikatnya. seorang hamba tidak akan sampai ke hakikat iman sehingga dia mengerti bahwa apapun yang luput dari seorang hamba memang bukan sesuatu yang menjadi bagiannya dan apapun yang menimpanya bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenainya"
Hadits kedua diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah yang dinyatakan shahih oleh Syekh Muhammad Nasruddin Al-Abany. Hadits ini diriwatahkan dari Abdullah bin Fairuz atau yang dikenal dengan ibnu ad-Dailamy. Dia bertutur, "Aku menemui Ubay bin Ka'ab. Aku mengadu kepadanya, 'Ada sesuatu tenang takdir yang mengganjal hatiku. Beritahu aku tentang sesuatu, kiranya Allah Akan menyirnakan ganjalan itu dari hatiku. 'Ubay Menjawab, 'Seandainya Allah mangazab seluruh penghuni langit dan bumi-Nya ini, sesungguhnya Dia mengazab mereka bukan lantaran Dia menzalimi mereka. Dan seandainya dia Merahmati mereka, sesungguhnya rahmat-Nya itu lebih baik daripada amal-amal meraka. Seandainya kami menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman kepada takdir dan mengerti apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu yang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenaimu. Seandainya kamu mati tidak dengan meyakini hal itu, kamu pasti masuk Neraka.' Kemudian aku menemi 'Abdullah bin Mas'ud. Dia memberikan jawaban yang sama. Lalu aku menemui Hudzaifah bin Yaman. Dia pun membenarkan jawaban yang sama. Setelah itu aku menemui Zaid Bin Tsabit dia malah menyampaikan Hadits Nabi saw. yang semisal dengan ucapan Ubay,"
Musibah Bukan Takdir Buruk
Hadits ketiga diriwayatkan oleh Imam Ahmad Abu Daud juga meriwayatkan dari jalur lain dari Walid Bin 'Ubadah katanya, "Saya menemui 'Ubadah saat dia sakit keras. 'Ayah.' kataku, 'Berwasiatlah kepadaku dengan wasiat yang paling berharga.' Beliau berkata, 'Duduklah aku!, Kemudaian beliau berkata "Anakku,sesungguhnya kamu tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman dan tidak akan sampai kepada hakikat ilmu tentang Allah dengan sebenar-benarnya sehingga kamu beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.! Wahai ayah, bagaimana aku mengetahui takdir yang baik dan yang buruk itu ? tanyaku. Beliau menjawab. Hendaklah kamu mengerti bahwa apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu uang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga menimpamu. Anakku, sungguh aku mendengar Rasulullah, saw. bersabda 'Benda pertama yang diciptakan oleh Allah swt adalah Pena, kemudian Dia Berfirman, 'Tulislah!. Maka Pena pun menulis segala yang akan terjadi hari kiamat.' Wahai anakku, jika kamu mati sedangkan kamu tidak meyakini hal itu, kamu akan masuk Neraka.
Matan yang merupakan penggalan beberapa hadits ini pun selaras dengan firman Allah yang berbunyi.
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya
"Katakanlah, " sekali-kali tidak akan menimpa Kami selain musibah yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman itu bertawakal.




0 comments:
Post a Comment