Saturday, June 15, 2019

Posted by Ardi Kurniawan
No comments | June 15, 2019

Takdir dicatat 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi

Setiap takdir yang menimpa diri kita tidak lain karena sudah digariskan oleh Allah swt. bahkan Allah swt telah menulis segala yang disiratkan kepada makhluknya di lahulih Mahfudz. Bahkan Allah swt. telah menuliskan takdir makhlukNya 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum Allah swt. menciptakan langit dan bumi Nabi Sallahu 'alaihi wasallama bersabda :

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)

Sebelum Allah subhanahuwata'ala menciptakan langit dan bumi Allah telah terlebih dahulu menciptakan Qolam (pena), kemudian Allah subhanahuwata'ala memerintakan qolam tersebut untuk menuliskan 

أَول ما خلق الله القلم قال له أكتب

Artinya "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah SWT. adalah Al-Qalam, dan Dia memerintahkan untuk menulis segala sesuatu yang ada.” (HR. Ya'ala dan Baihaqi)

Setelah Allah  subhanahuwata'ala mencitpakan pena, Allah memerintahkan pena tersebut untuk menulis segala ketentuan-ketentuan yang disiratkan terhadap makhluknya baik sesuatu yang besar hingga yang kecil yang terlihat ataupun yang tidak terlihat semua telah dicatat melalui makhluk Allah  subhanahuwata'ala yaitu pena. Jadi segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi sudah ditakdirkan oleh Allah swt berdasarkan kehendakNya, dan tidak ada seorangpun yang mampu merubah kehendak Allah  subhanahuwata'ala.

Macam-macam Takdir

Berkaitan dengan takdir Allah swt, maka terdapat 4 macam takdir yang Allah tentukan terhadap makhluknya diantaranya Takdir Azali, takdir Umri, takdir Sanawi dan taqdir Yaumi dari taqdir 4 tersebut takdir azali merupakan takdir utama dan merupakan takdir yang tidak dapat dirubah karena azali takdir azali yang tertulis di lauhil mahfudz. sedangkan 3 taqdir selainnya merupakan takdir yang dapat dirubah. berikut penjelasan 4 takdir tersebut.

1. Takdir Azali

Takdir azali adalah takdir yang ditetapkan oleh Allah  subhanahuwata'ala sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Takdir azali merupakan ketentuan Allah yang telah dituliskanNya di lauhil mahfudz sebagai ketetapan yang utama terhadap makhlukNya. Allah berfirman :

َ ألمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِير

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. (Al-Hajj/22 : 70)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ، قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim)

2. Takdir 'Umri

Takdir 'Umri adalah takdir yang di tuliskan oleh malaikat Allah swt ketika meniupkan roh kedalam janin manusia setelah berumur 120 hari, ketika itu Allah memerintahkan malaikat tentang takdir manusia terhadap rizki, ajal, amal, celaka atau bahagianya. Rasulullah saw. bersabda,

ِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ فِيْ ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ، فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim)

3. Takdir Sanawi

Takdir sanawi merupakan takdir tahunan yang di melalui malaikat jibril pada malam lailatul qodar. Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata, “terdapat satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat dan masih diselaraskan dengan catatan yang terdapat dalam kitabNya, tentang takdir Allah terhadap Makhluknya mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka. Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnaan ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-Qadr/97 : 4-5]

4. Takdir Yaumi

Takdir yaumi adalah takdir yang ditetapkan setiap harinya Allah, swt berfirman,

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan/55 : 29]

Takdir bisa dirubah

Segala ketentuan atau ketetapan Allah swt dari 4 macam takdir tersebut tertulis di lauhil mahfudz, manusia mampu merubah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt, sebagai contoh seseorang yang ditetapkan oleh sebagai seorang yang celaka namun karena usahanya yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan hidayah Allah swt, maka takdir tersebut dapat dirubah, salah satunya dengan do'a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ

“Tidaklah merubah suatu takdir melainkan doa.” [HR. Al Hakim, hasan]
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa takdir yang berubah tersebut berkaitan dengan doa, beliau berkata:

الدعاء من أسباب رد القدر المعلق ، والقدر يكون معلقا ويكون مبتوتا ، فإذا كان قدرا معلقا

“Doa termasuk sebab merubah takdir yang mu’allaq (bergantung pada sebabnya). Takdir itu ada yang mu’allaq dan ada yg telah tetap, sama sekali tidak berubah.”

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perubahan takdir dan doa tersebut juga tertulis dalam takdir azali lauhil mahfudz. Beliau berkata:

لكنه في الحقيقة لا يرد القضاء؛ لأن الأصل أن الدعاء مكتوب وأن الشفاء سيكون بهذا الدعاء، هذا هو القدر الأصلي الذي كتب في الأزل

“Pada hakikatnya takdir (azali) tidak berubah, karena doa tersebut sudah tertulis (dilauhil mahfudz) bahwa kesembuhan karena adanya doa, inilah takdir asli yang tertulis dalam takdir azali.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail 2/93]

Posted by Ardi Kurniawan
No comments | June 15, 2019

Hindari Perbuatan Curang

Kesuksesan tidak dapat dilakukan dengan cara yang pintas. Di era yang serba instan ini tidak semua dapat dilakukan dengan cara yang instan, bahkan sesuatu yang didapat dengan cara yang instan dinilai mempengaruhi kualitas produktifitasnya. Seorang siswa yang ingin lulus dengan jalan pintas pada akhirnya mencontek dalam mengerjakan soal-soal ujian. Seorang memanipulasi timbanganya untuk memperbanyak keuntungan, ataupun seorang pejabat yang menyogok dengan sejumlah uang untuk menaikkan jabatan, dan masih banyak lagi tindakan kecurangan-kecurangan yang berkembang di masyarakat. Setiap tindakan kecurangan merupakan ketidak mampuan seseorang terhadap perkara yang dihadapinya, padahal untuk meraih sesuatu yang dicita-citakan atau harapan-harapan yang besar dalam hidupnya hanya dapat dilakukan dengan keyakinan yang tinggi. Dan Bisakah seorang yang berbuat kecurangan memiliki keyakinan yang tinggi ? dan bagaimanakah balasan Allah terhadap setipa tindakan kecurangan ?

Sesorang yang melakukan kecurangan akan menutupi segala tindakan kecurangannya dengan berbagai alasan dan dalih yang akan menghilangkan sikap kerendahan hati dalam dirinya. "Tawadhu" merupakan sikap ketundukan terhadap suatu kebenaran, dengan demikian orang yang berbuat kecurangan pada hakikatnya ia berdiri diatas kesalahannya, dan tidaklah rasa takut itu, kecuali bagi-bagi orang yang berdiri diatas kesalahan.

Kecurangan merupakan kebohongan yang akut, karena bukan hanya muncul dari perkataan belaka namun dapat berupa tindakan, ilmu, pikiran dsb. Dalam tindakan jual beli misalnya mengurangi timbangan, menyembunyikan kecacatan atau mengurangi timbangannya maka akan dapat mengurangi kepercayaan dalam bertransaksi. Seorang pelajar yang melakukan kecurangan dalam menuntut ilmu, dengan mencontek misalnya akan mempengaruhi optimisme dalam dirinya. Allah swt melarang setiap tindakan yang curang karena tidak ada kebaikan dalam kecurangan kecuali kerusakan akibat perbuatannya.

Lembah Jahanam Bagi Orang yang Berbuat Curang

Kata "wail" dalam surat al Muthoffifin berarti keburukan yang sangat buruk atau sebuah lembah di Jahannam. Wail merupakan kecaman keras dari Allah swt. terhadap perilaku curang dalam dimbangan. Selain al-Muthoffifin, peringatan serupa juga terdapat dalam surat ar Rahman ayat (9). Allah berfirman :

وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Artinya :"Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengrangi neraca itu" 


Sekecil dan sesamar apapun kecurangnnya, pada hari perhitugan akan tampak juga. Karenanya, dalam lanjutan 3 ayat pertama surat al-Muthoffifin, Allah mengingatkan tentang hari kiamat. Yaitu hari dimana semua amal ditimbang dan diberi pembalasan. Allah swt. berfirman :
"Tidaklah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. ada suatu hari yang besar : (yaitu) Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam" (Q.S. Al-Muthoffifin : 4 - 6).

Kecurangan dan harta yang diperoleh secara zalim, jelas akan memperberat timbangan keburukan. Jika seseorang disiksa karenanya bearti dia telah mendapatkan kerugian yang amat besar. Kenikmatan yang diperolehnya dari harata tersebut, sebesar apapu tidak akan sebanding dengan kepedihan dan kesedihannya di neraka. Sehinga pada hakikatnya ia bukan dapat untung tapi justru "buntung".

Adapun di dunia segala apapun yang didapat dari hasil kecurangan, baik harta, jabatan, tahta tidak akan membawa keberkahan justri sebaliknya akan membawakan mudhorot dan mengundang banyak permasalahan, bahkan bisa jadi malapetaka pun dapat menimpa dari hasil tindakan kecurangan.

Hukuman Allah memang tidak selalu tampak dramatis seperti halnya dalam tayangan sinetron, atau film-film di layar kaca. Namun balasan terhadap tindakan yang membuahkan kezaliman pastilah menjadi konsekuensi dari ketentuan dan ketetapan Allah swt. Jika balasan tersebut tidak datang di dunia pastilah di akhirat Allah akan membalasnya termasuk perbuatan kecurangan "wail" dengan konsekuensi berada dalam lembah jahanam, tidak ada seorangpun yang mampu mengelak dari siksaan Allah swt atas tindakan manipulasi atau kecurangan dari tangan seseorang sedangkan Allah swt. Maha melihat atas segala sesuatu.


Kesimpulannya, kecurangan bukanlah keberhasilan atau jalan untuk menuju kesuksesan yang sebenarnya. Tapi sebaliknya jalan untuk menuju keburukan yang hakiki baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya keimanan di hati adalah pertahanan satu-satunya untuk menghindari dari setiap perbuatan yang dimurkai Allah swt. Hati yang dipenuhi dengan zikir kepada Allah swt merupakan hati yang sangat peka terhadap setiap kezoliman, sedangkan kemudahan untuk berbuat kezoliman itu sendiri karena hati yang diselimuti oleh hawa nafsu dunia dan kecurangan merupakan keinginan terhadap kenikmatan yang semu, dan membawa kemudaharatan bagi setiap pelakunya.

Blogroll

About