Tuesday, June 11, 2019

Posted by Ardi Kurniawan
1 comment | June 11, 2019
Takdir Allah
Iman seorang muslim tidak akan sempurna bila belum memenuhi enam rukun dari rukun Iman termasuk beriman terhadap takdir Allah swt, baik takdir yang buruk ataupun takdir yang baik. Seorang muslim yang tidak memahami hakikat dari takdir dapat menjerumuskanny ke dalam neraka pada hari kiamat. Untuk itu perlu kiranya seorang memahami makna Qodho' dan Qodar serta prinsip-prinsip keimanan kepada takdir.

Baca Juga :

Pengertian Qodho' dan Qodar

Secara Bahasa Qodho berarti hukum, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, penciptaan, peniadaan atau perubahan terhadap sesuatu.  Berdasarkan Istilah maka Qodho adalah ketentuan atau tetetapan Allah swt, terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan iradah dan kehendak Allah, baik itu iradahNya yang baik atau yang buruk, kehidupan, kematian, rizki, jodoh. dll. Qodar secara bahasa adalah kepastian, peraturan ataupun ukuran yang ditetapkan sejak zaman azali (zaman sebelum diciptakannya Makhluk) . 
Berdasarkan pengertian diatas Qodho dan Qodar merupakan dua istilah yang memiliki makna yang serupa namun memiliki  makna yang berbeda bila disebutkan atau diucapkan secara bersamaan. Dengan demikian bila disebutkan Qodho saja maka maknanya tercakup di dalamnya makna Qodar. dan jika disebutkan Qodho dan Qodar memiliki makna yang berbeda seperti pengertian diatasa yakni qodar ada terlebih dahulu karna ditentukan sejak zaman azali kemudian disusul dengan qodho.

Prinsip Beriman kepada Takdir

Sebagai sorang muslim kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dapat diukur dari tingkat keimanan. untuk itu setiap keimanan hendaknya dilandaskan kepada prinsip sehingga dalam beribadah baik mahdhoh atau ghoiru mahdoh tidak sekedar ikut-ikutan, dan ketetapan iman tetap kukuh, tidak mudah goyah. Iman kepada Takdir memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut,
  • Meyakini dan mengiman bahwa Allah swt, mengetahui segala sesuatu, baik yang kecil maupun besar, nampak atau tersembunyi sejak zaman azali yang dilakukan oleh kehendak Allah swt sendiri ataupun yang dilakukan oleh makhluknya. Hal tersebut menandakan bahwa Allas swt memiliki ilmu yang luas mencakup segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi baik yang nampak ataupun tidak
  • mengimani bahwa luasnya ilmu Allah swt. ditulis melalui pena yang diciptakan oleh Allah swt  di lauhil Mahftudz yang biasa disebut oleh manusia sebagai siratan taqdir
ألَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ
ِِArtinya “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).
  • Mengimani bahwa Allah swt memiliki kehendak tidak ada satu makhlukpun yang mampu mengahalangi kehendak Allas swt. Jika Allah swt mengendaki sesuatu untuk terjadi maka terjadilah. Pada prinsip ini menandakan bahwa siratan taqdir manusia yang tertulis di lauhil mahfudz dapat dirubah ataupun dihapuskan oleh Allah swt, bedasarkan kehendak Allah swt. Dalam surat Ar Ra'd 13: 39 dijelaskan,
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Artinya : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuz).. (Ar Ra’d, 13: 39)
  • Mengimani dan  mengimani segala yang terjadi merupakan ciptaan Allah swt.
Dari empat prinsip diatas tentunya patut disadari bahwa pentingnya keimanan terhadap takdir Allah swt hendaklah didasarkan terhadap pemahaman tentang luasnya ilmu Allah swt dan luasnya rahmat Allah swt, yang dianugerahkan seluruh makhluk ciptaanNya.

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَعِلْمًا
“…Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, …” (QS. Ghafir[40]: 7)

Berdasarkan kepada luasnya rahmat dan ilmu Allah swt, maka Allah swt memiliki kehendak atas segala susuatu  yang menimpa  makhlukNya baik itu perkara yang baik atau perkara yang buruk, merupakan takdir yang telah tertulis di lauhil mahfudz ataupun takdir atas kehendak Allah swt. Takdir yang telah ditetapkan pada dasarnya merupakan ketetapan swt yang tidak dapat dirubah, namun beriman yang benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kemampuan manusia untuk berbuat ataupun berkehendak

ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَآءَ اتَّخَذَ إِلىَ رَبِّهِ مَئَابًا
"Itulah hari yang pasti terjadi, maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kemabali kepada Tuhannya (QS. An-Nabaa:39)








1 comment:

Blogroll

About